Selasa, 06 Januari 2009

Dinasti abbasiyah

DINASTI ABBASIYAH
(Kemajuan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Agama Dan Syari’at)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Menurut Koentjoroningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud, (1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Peradaban dalam Islam, dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah, para sahabat (Khulafaur Rasyidin),dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang maju. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Islam memang berbeda dari agama-agama lain, sebagaimana pernah diungkapkan oleh H.A.R. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M.Natsir, bahwa, “Islam is andeed much more than a system of theology, it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya, sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Jadi, dalam islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi), agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan.
Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam sejarah islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah, Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi, diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim.
Sejak terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir dari Dinasti Umayyah oleh seorang pemuda berdarah Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim Al- Khurasani di Fusthath, Mesir pada bulan Dzulhijjah 132 H bertepatan dengan tahun 750 M, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa kurang lebih 90 tahun. Dan itu berarti secara resmi sejak itu kekuasaan berpindah ke tangan Bani Abbas yang kemudian lebih dikenal dengan Daulah Abbasiyah.
Daulah Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad, yaitu dari tahun 750 M hingga tahun 1258 M. Masa pemerintahan yang panjang tersebut telah mengukir sejarah keemasan (golden age) dalam peradaban Islam, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun. Ummat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu.
Berbagai kemajuan dan perkembangan yang berhasil dicapai selama masa kekuasaan Daulah Abbasiyah, antara lain :
1. Ekspansi wilayah kekuasaan dan pengaruh Islam, dari Baghdad sebagai pusat pemerintahan bergerak ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga Cina. Ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M).
2. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan agama dan syari’at
3. Pembangunan tempat pendidikan dan tempat peribadatan
4. Kemajuan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi
5. Perkembangan politik, ekonomi dan administrasi
Selain itu, pada masa Daulah Abbasiyah bermunculan beberapa tokoh Ilmuan Islam, seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Khawarazimi, Rayhan Al Bairuni, Ibnu Mansur Al Falaky, At Tabrani, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Majah, Abu Daud, Jahm Ibnu Sofyan, Washil bin Atha’, Sibawaih, dan lain-lain. Bahkan para ilmuan barat banyak belajar pada mereka.
Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbas dalam sejarah lebih banyak berbuat ketimbang bani Umayyah. Pergantian Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah mengubah, menoreh wajah dunia Islam dalam refleksi kegiatan ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbas merupakan iklim pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis memfokuskan pembahasan pada tiga masalah, yaitu :
1. Bagaimana latar belakang berdinya Dinasti Abbasiyah?
2. Bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan agama dan syari’at yang terjadi di masa daulah Bani Abbas?
3. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perkembangan pengetahuan agama dan syari’at yang begitu pesat di masa daulah Bani Abbas juag faktor-faktor Dinasti ini bisa bertahan hingga kurang lebih lima abad?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Berdiri dan Priodeisasi Dinasti Abbasiyah
Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu); sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima abad.
Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat, Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas. Pada tahun 762 M, Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon, bekas ibukota Persia. Oleh karena itu, ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah, digambarkan sebagai orang yang kuat dan tegas, ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang kuat. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium.
Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti Umayah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M).
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :
Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani sejak dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.



B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at Di Masa Daulah Bani Abbas
Doktor Hasan Ibrahim Hasan dalam bukunya Tarikh Al-Islam juz 2 , beliau mengklasifikasikan ilmu kedalam dua bagian, yaitu: Al Ulum al-Naqliyah (Ilmu Keagamaan dan Syari'at) yang kadang disebut juga dengan Ulum al- Qadimah dan Al Ulum Al Aqliyah (Ilmu-ilmu Umum) yang kadang disebut juga dengan Ulumul al-Ajam (Ilmu-ilmu Asing). Adapun yang termasuk dalam Al Ulum al Naqliyah (Ilmu-ilmu Keagamaan Syari'at) adalah: Ilmu tafsir, Ilmu Qira'at, Ilmu Hadits, Fiqhi, Ilmu Kalam, Nahwu (Tata Bahasa), Ilmu Bahasa dan Bayan (Retorika), serta Adab (Ilmu Sastra). Sedangkan yang termasuk dalam kategori Al 'Ulum Al 'Aqliyah (Ilmu-ilmu Umum) meliputi: Filsafat, Ilmu Teknik, Ilmu Perbintangan (Astronomi), Musik, Kedokteran,
Ilmu Sihir dan Kimia, Sejarah dan Geografi.
Berangkat dari klasifikasi di atas, maka berikut ini akan diuraikan perkembangan ilmu pengetahuan Agama dan Syari'at (Al Ulum al-Naqliyah atau Ulum al- Qadimah) yang terjadi di zaman pemerintahan Bani Abbas.

Perkembangan Ilmu dan Metode Tafsir Al Qur’an
Perkembangan metode tafsir di masa Daulah abbasiyah ditandai dengan munculnya dua metode penafsiran Al Qur’an, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi .
Diantara para ahli tafsir bi al-ma’tsur adalah:
a. Ibn Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya Jami’Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an yang lebih dikenal dengan tafsir Al-Thabari. Tafsir ini merupakan tafsir yang terpenting dari tafsir bi al-ma’t (interpretasi taradisional),hasil karya beliau terdiri dari 30 jilid dan terkenal karena ketelitiannya dan kesaksamaannya. Banyak materinya berasal dari sumber autentik Yahudi seperti yang ditulis oleh Ka’b Al-Ahbar dan Wahb Ibn Munabbin.
b. Ibn ‘Athiyah Al-Andalusy
c. As Sudai yang mendasarkan tafsirnya kepada Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud Radiyallahu ‘Anhuma.
d. Muqatil Ibn Sulaiman yang tafsirnya terpengaruh oleh kitab Taurat.
Sedangkan ahli tafsir tafsir bi al-ra’yi adalah:
a. Abu Bakar Asam (Mu’tazilah)
b. Abu Muslim Muhammad ibn Bahar Isfahany (Mu’tazilah)
c. Ibn Jarul Asadi (Mu’tazilah), dan
d. Abu Yunus Abdussalam (Mu’tazilah)
Kedua metode tafsir di atas sangat berkembang di masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra’yi (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fikih dan, terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan ummat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut
Perkembangan Ilmu Hadits
Hadits pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah hadits mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadits tersebut.
Pada masa ini muncullah ahli-ahli hadits, antara lain:
a. Imam Bukhori, yaitu Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Abi al-Hasan Al-Bukhari. Lahir di Bukhara tahun 194 H dan wafat tahun 256 H di Baghdad. Imam Bukhari memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh ahli hadits sebelumnya, yaitu dalam hal pengumpulan dan pengklasifikasian hadits Nabi. Beliau tidak puas dengan mengumpulkan hadits-hadits yang ada di daerahnya dimana beliau dibesarkan, tetapi beliau juga tinggal sementara di daerah-daerah lain dan perjalanannya untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi memakan waktu 16 tahun. Disamping itu beliau memiliki kemampuan yang luar biasa dalam membedakan antara hadits shahih dan hadits palsu. Tingkatan dan kemampuan yang sangat kuat membantu sekali dalam mengumpulkan hadits-hadits. Bukunya yang berjudul Shahih al-Bukhari (Jami’ al-Shahih) merupakan sumber dari hadits shahih yang terpenting. Beliau mengumpulkan hadits sebanyak 7.275 hadits, termasuk hadits-hadits yang diulangi, jika kita menghapus sejumlah hadits -hadits yang diulangi dan -hadits yang kurang sambungan para saksinya, jumlahnya akan berkurang 3.000 hadits diriwayatkan bahwa Imam bukhari sudah menyeleksi kira-kira 300.000 yaitu 1-2 %. Hal ini menunjukkan betapa telitinya Imam Bukhari didalam memilih dan menyelidiki hadits-hadits yang ia kumpulkan selama perjalannya yang panjang. Imam Bukhari menyusun hadits shahihnya (shahih al-Bukhari) dalam 77 bab/fasal, setiap bab terdiri dari hadits-hadits yang bersangkutan dengan isi buku yang sesuai yaitu bab thaharah, ibadah dan mulainya wahyu Rasul. Beliau menetapkan metode dan peraturan yang dikenal dengan ‘Matan Al Bukhari”.
b. Imam Muslim, yaitu Imam Abu Muslim Ibn Al-Hajjaj Al Qushairy An Naishabury, wafat tahun 261 H di Naishabur. Diantara karyanya yang monumental adalah Shahih Muslim. Seperti halnya dengan Imam Bukhari, Imam Muslim terkenal pula dengan perjalannya yang lama untuk mencari hadits-hadits Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menetap sementara Hijaz, Siria, Mesir dan terutama Iraq yang ia kunjungi beberapa kali. Hubungannya dengan Imam Bukhari di Naishabur merupakan bantuan besar baginya. Koleksi hadits-hadits Muslim dikenal dengan “ShahihMuslim”. Beliau juga mengikuti contoh Bukhari dalam menghapus hadits yang diulangi dan mengklasifikasikan menurut isinya. Namun demikian beliau tidak memberikan kepala bab dalam koleksinya.
c. Ibn Majah, karyanya adalah Sunan Ibn Majah
d. An Nasai, karyanya antara lain adalah Sunan al-Nasai

Perkembangan Ilmu Qira’at
Qira’ah Sab’ah menjadi termasyhur pada permulaan abad kedua hijriyah, dibukukan sebagai sebuah ilmu pada penghujung abad ketiga hijriyah di Baghdad oleh Imam Ibn Mujahid Ahmad bin Musa Ibnu Abbas, beliau amat teliti, tidak mau meriwayatkan kecuali dari orang yang kuat ingatannya (dhabit), dapat dipercaya dan panjang umur dalam mengikuti qira’ah. Disamping itu harus ada kesepakatan mengambil atau memberi darinya.
Dari data ini dapat diambil kesimpulan bahwa di zaman pemerintahan Bani Abbas perkembangan ilmu Qira’at mencapai puncaknya.
Diantara ahli qira’at yang terkenal di masa pemerintahan Bani Abbas periode Pertama, adalah: 1.Yahya bin Al-Harits Adz Dzamary wafat tahun 145 H2.Hamzah bin Habib Az Zayyat wafat tahun 156 H di zaman pemerintahan khalifah Abu Ja’far Al Manshur (136 – 158 H) 3.Abu Abdirrahman Al Muqry wafat tahun 213 H, dan 4.Khalaf Bin Hisyam Al Bazzaz wafat tahun 229 H.

Perkembangan Ilmu Fiqhi
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Abu Hanifah (700 – 767 M), Imam Malik (713 – 795 M), Imam Syafi’i (767 – 820 M) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (780 – 855 M). Imam Abu Hanifah sangat teliti dalam menerima hadits dan sangat ketat dalam menyeleksi Rijal Hadits, beliau tidak menerima khabr (hadits) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kecuali diriwayatkan secara mutawatir atau disepakati oleh para fuqaha di daerah kekuasaan ummat Islam. Tidak didapati satu bukupun tentang fiqhi Abu Hanifah, kecuali Ibnun Nadim menyebutkan beberapa karyanya, yaitu Al Fiqh al-Akbar, yang merupakan tulisan tentang aqidah dan Risalah kepada Al Busty, Kitab al-Alim wa al-Mua’llim, buku bantahan terhadap paham qadariyah (Ar Raddu ‘ala al-Qadariyah, dan Ilmu Darat dan Lautan, Timur dan Barat, Jauh dan Dekat. Diantara murid-murid Abu Hanifah, bisa disebutkan, yaitu Layts Ibn Sa’d yang diberi kekuasaan untuk memimpin para hakim (Qadhi) di Mesir. Dia memperoleh kehormatan dan kekaguman dengan ketajaman akalnya dari khalifah Abbasiyah bernama Abu Ja’far Al Manshur yang menemuinya di Baital Maqdis. Karena kepandaiannya sehingga Al Layts berhasil memasukkan uang ( zakat, infak dan sedekah) sebanyak 5000 dinar pertahun yang dibagi-bagikan kepada para ahli Ilmu sebagai bantuan dan penghargaan kepada mereka.
Dan diantara fuqaha lain yang ada pada zaman pemerintahan Bani Abbas adalah Malik Bin Anas lahir pada tahun 93 atau 97 H dan wafat pada tahun 179 H.(713 – 795 M). Beliaulah yang pertama kali menulis buku-buku tentang ilmu-ilmu agama di zaman Bani Abbas, buku beliau yang sangat terkenal adalah Al Muwaththa buku pertama tentang Fiqhi Islami, buku yang lain adalah Al Mudawwanah, yaitu buku yang berisi kumpulan risalah tentang fiqhi Imam Malik, dikumpulkan oleh muridnya yang bernama Asad bin Al Farrat An Naisabury yang isinya mencakup 36.000 masalah.
Diantara murid-murid Imam malik terdapat Asy-Syaibani, Asy-Syafi’I, Yahya Al Layts Al-Andalusy, Abdurrahman Ibn al-Qasim di Mesir dan Asad Ibn Al-Furat Al-Tunisi. Filosof Ibn Al-Ruyd dan pengarang Bidayat al-Mujtahid termasuk pengikut Imam Malik. Mazhab Imam Malik banyak dianut di Hijaz, Maroko, tunis, Tripoli, Mesir selatan, Sudan, Bahrain dan Kuwait, yaitu di dunia Islam sebelah barat dan kurang di dunia Islam sebalah timur.
Dan diantara Imam ahli fiqh yang terkenal di masa Bani Abbas adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. Beliau menggabungkan dua madzhab, yaitu madzhab naql yang bergantung pada hadits dianut oleh Imam Malik (Madzhab Malik) dan madzhab ‘aql (rasional) yang dipelopori oleh Abu Hanifah di Iraq. Beliau yang pertama kali berbicara tentang Ushul Fiqh dan pertama kali meletakkan dasar-dasarnya.
Imam Syafi’i banyak menulis buku tentang Fiqh Islam, diantaranya Kitab Al Masbut Al Fiqh, Kitab al Umm yang beliau diktekan kepada salah satu muridnya di Mesir. Banyak ahli fiqh yang dipengaruhi olehnya.
Di antara murid-murid Imam Syafi’i di Irak terdapat Ahmad Ibn Hambal, Daud Al-Zahiri dan Abu Ja’far Ibn Jarir Al-Tabari dan di Mesir Isma’il Al-Muzani, dan Abu Ya’qub Al-Buwaiti, Abu Hamid Al-Ghazali, Muhy Al-Din Al-Nawawi, Taqiu Al-Din Al-Subki, Taju Al-Din Abdul Wahhab Al-Subki dan Jalal Al-Din Al Suyuti, termasuk dalam golongan pengikut-pengikut besar dari Asy-Syafi’i. Mazhab beliau banyak dianut di daerah pedesaan Mesir, Palestina, Suria, Lebanon, Hijaz, India, Indonesia dan juga Persia dan Yaman.
Ulama lain yang menonjol pada zaman Bani Abbas adalah Imam Ahmad Bin Hambal (meninggal dunia pada tahun 241 H/855 M), menyibukkan dirinya sebagai ahli hadits (tradisionalist), para ahli fiqh dengan suara bulat menyetujui bahwa Ahmad Ibn Hambal merupakan ahli hadits, tetapi disana bermacam-macam pendapat apakah dia seorang ahli fiqh. Tabari, seorang ahli dalam bidang sejarah dan tafsir Al-Quran terkemuka, menimbulkan perasaan gerang para pengikut Hambali karena dia menganggap Ahmad ibn Hambal sebagai ahli Hadits dari pada legislator. Ketika Tabari meninggal dunia di Baghdad, pengikut-pengikut Ahmad Ibn Hanbal mengadakan upacara dan mencegah penguburannya pada siang hari. Mayat Tabari dikubur di rumahnya pada malam hari.
Ahmad Ibn Hambal menentang dogma baru dengan keras, dogma yang mempertahankan bahwa Al-Quran adalah makhluq. Dogma ini sesuai dengan pandangan Mu’tazilah yang dibantu oleh khalifah-khalifah Abbasiyah, Ma’mun dan para penggantinya.
“Kalau tidak karenanya”. Kata Nicholson, mengutip daari seorang ahli sejarah, Abu al-Muhasin “Kepercayaan dari orang-orang banyak pasti akan berkurang”. Baik ancaman maupun permohonan akan menggoncangkan resolusinya, dan ketika ia dicambuk, dengan perintah khalifah Mu’tasim, Istana dalam keadaan bahaya dengan ancaman-ancaman dari rakyat jelata yang sudah berkumpul di luar istana untuk mendengarkan hasil pemeriksaan pengadilan, mereka tidak mendeklarasikan Al-Qur-an adalah merupakan makhluk, akan resiko dicambuk atau disiksa Abul-Wafa’ Ibn Aqil, Abdul Qadir Al-Jalili, Abul Faraj Ibn Al-Jawzi, Muwaffaq Al-Din Ibn Qudama, Taqiu Al-din Ibn Taimiyah, Muhammad Ibn Al-Qayyim dan Muhammad Abd al-Wahhab adalah pengikut-pengikut termasyhur dari Imam Ahmad Ibn Hambal. Penganut mazhab beliu terdapat di Irak, Mesir, Suria, Palestina dan Saudi Arabia. Diantara keempat mazhab yang ada sekarang, mazhab Hambalilah yang paling kecil penganutnya.
Di samping empat pendiri mahzab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman.

Perkembangan Ilmu Kalam
Perdebatan para ahli mengenai soal dosa, pahala surga dan neraka, serta pembicaraan mereka mengenai ketuhanan dan tauhid, menghasilkan suatu ilmu, yaitu ilmu tauhid atau ilmu kalam.
Diantara aliran ilmu kalam yang berkembang adalah Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Para pelopornya adalah Hahm Ibn Safwan, Ghilan al-Dimisyq, Wasil ibn ‘Atha’, al-Asy’ari dan Imam al-Ghazali.

Perkembangan Ilmu Bahasa
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat efektif. Ia tidak hanya dipergunakan dalam berkomunikasi lewat lisan, tetapi juga dipergunakan sebagai alat untuk mengekspresikan seni, di samping sebagai bahasa ilmiah.
Diantara ilmu bahasa yang berkembang pada waktu itu adalah Nahwu, Sharaf, Bayan, Bad’i dan Arudh. Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah ilmu ini mengalami perkembangan sangat pesat. Sebab bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antara bangsa. Pusat perkembangan ilmu bahasa Arab adalah Kufah dan Bashra. Diantara para ahli ilmu bahasa yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu bahasa adalah:
a. Sibawaih (wafat tahun 183 H). Karyanya terdiri dari dua jilid setebal 1000 halaman.
b. Al-Kisai, wafat tahun 198 H.
c. Abu Zakaria al-Farra (wafat tahun 208 H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6000 halaman lebih.

Perkembangan Ilmu Sain
Keberahasilan umat Islam pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan sains dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Di anataranya adalah kebijakan politik pemerintah Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab ( Mawali ), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Meraka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian ilmu pengetahuan malalui bahan-bahan rujukan yang pernah ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya. Kebijakan tersebut ternyata membawa dampak yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains yang membawa harum dinasyi ini.
Dengan demikian, banyak bermunculan banyak ahli dalam bidang ilmu pengetahaun, seperti Filsafat, filosuf yang terkenal saat itu antara lain adalah Al Kindi ( 185-260 H/ 801-873 M ). Abu Nasr al-faraby, ( 258-339 H / 870-950 M ) dan lain-lain.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban islam juga terjadi pada bidang ilmu sejarah, ilmu bumi, astronomi dan sebagainya. Dianatar sejarawan muslim yang pertama yang terkenal yang hidup pada masa ini adalah Muhammad bin Ishaq ( w. 152 H / 768 M ).

Perkembangan Adab (Ilmu Sastra)
Ketika seorang penyair muncul di salah satu keluarga bangsa Arab, tetangga-tetangga akan berkeliling mengelilingi keluarga ini dan minta diijinkan untuk menikmati syair-syairnya. Saat/kesempatan ini akan diperingati. Orang-orang wanita akan mengikuti bersama-sama dalam kelompok-kelompok ini, mempermainkan kecapi, karena penyair merupakan penjaga kehormatan mereka, senjata untuk mengelakkan fitnah, mengabdikan tingkah laku luhur mereka dan menetapkan kemasyhuran mereka.
Penyair bangsa Arab sebelum zaman dianggap sebagai orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tinggi, tukang sihir bergabung dengan jin dan setan dan menggantungkan kepada mereka untuk syair magic yang diinspirasikan kepadanya.Di antara para penyair terkenal yaitu:
a. Imri’ul-Qays, kakeknya merupakan raja dari suku Kinda.
b. Turrafa ibn al-‘Abd, anggota suku Bake di Bahrein, menetap di teluk Persia.
c. Amr ibn Khulthum yang berasal dari suku Taghlib dan Ibunya Layla adalah saudara perempuan penyair dan prajurit terkenal. Muhalil.
d. Harrir ibn Hiullisa dari suku Bakr.
e. Zihayr ibn Abi Sulma dari suku Muzayna.
f. Labib ibn Abi Rabi’a dari suku banu Amir.
g. Ziyad ibn Mu’awiyyah (terkenal dengan an-Nibigha al Dubhyani) dari suku
Dubhyan, hidup di istana Ghassan di perbatasan Syiria dan Hira. Mereka 7 orang penyair tadi sudah menjadi kekal dan syair-syair mereka masih dipelajari di dunia Islam dan institut-institut study orientalis di dunia barat.
Syair Abbasiyah Di masa pemerintahan Abbasiyah, trend/aliran baru dalam gaya bahasa, darti dan buah pikiran muncul. Syair-syair baru memperlihatkan keaslian dan keunggulannya, sebagai perbandingan dengan syair-syair di zaman jahiliyyah, masa transisi dan masa pemerintahan dinasti Umayyah. Para penyair bersumpah menigngalkan diskripsi tentang kehidupan Dedorian dan merasa tertarik dengan perkemahan di Padang pasir dalam pembukuan syair pujian mereka, menghina pemujaan terhadap barang antik yang berlebih-lebihan dalam salah satu Syairnya Abu Nuwas mengatakan :
“Biarlah angin selatan membasahi pandangan yang sunyi dengan air hujan. Dan suatu ketika masa akan menghapuskan apa yang segar dn hujan, biarkan mereka minum beberapa mangkuk susu dan meninggalkan mereka sendiri. Kepada siapa kehidupan yang lebih baik diberikan”.

Kemajuan dalam Bidang Politik
Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-khawarij di Afrika utara, gerakan zindik di Persia, gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa serta aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

Kemajuan dalam Bidang Ekonomi
Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa kekayaan. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting.

Kemajuan dalam Bidang Sosial
Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). kekayaan yang banyak di manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. Rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter. Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini, kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya.

C. Faktor-Faktor Penyebab Perkembangan Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at Di masa Daulah Bani Abbas dan Faktor-Faktos Pemerintahan Abbasiyah Bertahan Lama.
Jika dianalisa dari berbagai referensi yang penulis dapatkan, maka faktor-faktor penyebab berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at di masa pemerintahan Abbasiyah adalah sebagai berikut:
Pertama, para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kuat kepada para ilmuan untuk melakukan kajian-kajian ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Baik ilmu agama dan syari’at (Al Ulum al- Naqliyah) yang merupakan fondasi kehidupan, maupun ilmu-ilmu umum (Al Ulum al-Aqliyah) yang merupakan penopang kehidupan. Adalah Al Ma’mun, khalifah pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagi khalifah yang sanagt cinta kepada ilmu.
Kedua, sikap dan kebijaksanaan para penguasanya dalam mengatasi segala persoalan, termasuk dalam sikap politiknya. Sebab sikap politik dinasti Abbasiyah berbeda dengan sikap politik yang dijalankan pemerintahan Bani Umayyah. Dinasti Umayyah sangat fanatik terhadap keturunan Arab (Arab Orientid), tetapi dinasti Abbasiyah lebih bersifat demokratis, meskipun tampuk pemerintahan masih tetap berada di tangan khalifah dari keturunan Arab. Dalam bidang-bidang lainnya, bisa saja dipegang oleh orang-orang Persia ataupun orang-orang Turki. Disamping itu ketika Bani Abbas berkuasa, beberapa daerah berhasil ditaklukkan kemudian dikembangkan menjadi pusat-pusat peradaban Islam, seperti Baghdad, Isfahan, Tabaristan, Ghasranah, Halab, Bukhara, Cordova, Valensia dan Murcia. Pada masa inilah bangsa-bangsa yang bernaung di bawah kekuasaan Islam menjadi aneka suku bangsa dengan aneka corak ilmu pengetahuan dan peradabannya. Fakta-fakta inilah semua yang memungkinkan terjadinya transformasi ilmu pengetahuan dan peradaban. Salah satu kebijakan politik yang sangat kondusif untuk perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Bani Abbas adalah kebebasan berpikir dan berpendapat diakui sepenuhnya, akal dan pikiran dibebaskan dari belenggu taklid.
Ketiga, penyediaan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Abbasiyah mulai didirikan sekolah dalam bentuk seperti sekarang dengan nama Madrasah, yang didirikan mulai dari tingkat rendah, menengah, serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan. Selanjutnya lembaga-lembaga pendidikan ini berkembang menjadi akademi, bersamaan dengan itu didirikan pula perpustakaan-perpustakaan. Perpustakaan di masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, di sana orang-orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Madrasah dan perguruan-perguruan tinggi itu diasuh oleh para tokoh-tokoh yang ahli dibidangnya, para ilmuan di masa itu hidupnya makmur karena dijamin oleh khalifah, seperti khalifah Harun Al-Rasyid. Selain itu di masa pemerintahan khalifah Al-Ma’mun digalakkan penerjemahan buku-buku asing, untuk menterjemahkan buku-buku Yunani beliau menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Karya terbesar dari khalifah Al-Ma’mun adalah pembangunan Bait al-Hikmah yang merupakan pusat penerjemahan yang berfungsi sebagi perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa inilah Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Keempat, terjadinya asimilasi antar bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia misalnya sangat kuat di bidang pemerintahan, bangsa Persia juga banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
Kelima, Dinasti Abbasiyah dengan setia melaksanakan hadits nabi yang berbunyi “pemimpin itu dari bari bangsa Quraisy”. Hadits tersebut mereka sekalipun dalam pemerintahannya dijalankan oleh bukan turunan Quraisy akan tetapi pemimpinnya tetap dari turunan Quraisy.
Keenam, diantara faktor yang menjadi bertahan lebih lamanya pemerintahan Abbasiyah adalah pusat pemerintahan diletakkan ditengah kota yang dikelilingi oleh dinasti-dinasti kecil yang setia atau mengiduk ke Bagadad. Sehingga apabila terjadi pemberontakkan atau penyerangan maka yang pertama kali menghadangnya adalah dinasti-dinasti kecil tersebut.
Dibalik faktor-faktor pendukung terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu agama dan syari’at seperti yang telah diuraikan di atas, satu hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja adalah, peran seluruh pemerintahan Islam pra dinasti Bani Abbasiyah, mulai dari pemerintahan kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam dan para Al Khulafa Al-Rasyidin, dan khilafah Bani Umayyah.
Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri Spanyol. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya, pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah, meskipun ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya, tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Itulah sebabnya belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. Dan ketika singgasana itu terjatuh, demikian pula para rajanya, tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi mereka.
Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw, dan bahwasanya mereka akan mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah.Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786 M), Harun al-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).
Khalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Ia banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap seni.
Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada tahun 555 M. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran, obat dan falsafah.
Dari gambaran diatas terlihat bahwa, Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah

D. Kesimpulan
1. Adapun yang melatabelakangi berdirnya Dinasti Abbasiyah diantaranya adalah Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir (jabatan kepala wilayah ketika itu); sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk kepada khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima abad
2. Zaman pemerintahan Bani Abbas (Daulah Abbasiyah) merupakan zaman keemasan Islam dalam sepanjang sejarah peradaban Islam. Hal ini ditandai dengan berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan Agama dan Syari’at, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Qira’at, Hadits, Fiqh, Bahasa dan Retorika, Ilmu Kalam, Ilmu Sastra maupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti Filsafat, Kedokteran, ilmu administrasi, Ilmu Teknik, Matematika, farmasi dan Kimia, Astronomi, Sejarah dan Geografi, Ilmu Optik dan lain-lain.
3. Faktor-faktor berkembangnya ilmu pengetahuan agama dan syari’at serta bertahan pemerintahan Bani Abbas, adalah:
a. Para penguasanya cinta kepada ilmu dan banyak memberikan motivasi kepada para ilmuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan agama.
b. Sikap dan kebijaksanaan politik yang kondusif.
c. Penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
d. Setia melaksanakan hadits “pemimpin itu dari bangsa Quraisy”
e. Pusat pemerintahan dikelilingi oleh dinasti-dinasti kecil yang setia ke-Bagdad.

DAFTAR PUSTAKA
A.Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Cet.V; Jakarta : PT.Bulan Bintang, 1415H/1995M
Ali Ash-Shabuni, Muhammad, At Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alih Bahasa Muhammad Qadirun Nur, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, Cet.I; Jakarta: Pustaka Amani, Jumadil Ula 1422H- Agustus 2001M.

Al-Khudary, Muhammad Bika, Ad Daulah Al-Abbasiyah, Muassasah Al- Kutub Ats-Tsaqafiyah, 1420H/1999M

Departemen Agama RI Direktorat jenderal Kelembagaan Agama Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta, Juli 2002

Hassan, Ibrahim Hassan, Islamic History and Culture, alih bahasa Djahdan Humam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Cet.I; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989

Hasan, Ibrahim Hasan, Tarikh Islam Juz Kedua, Cet. 15; Beirut: Darul Jayl, Mesir: Maktabah An Nahdhah Al Mishriyah, 1422H-2001M

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II,Cet.I; Jakarta: UI-Press, 1984-1985

Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, politik, dan Budaya Ummat Islam, Cet.I; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, September 2004

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Cet.XIV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, Juni 20.

John L. Esposito (ed), The Oxpord History of Islam, New York, Oxpord University Press 1999

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta,1985

M.Natsir, Capita Selecta, NV Penerbitan W. van Hoeve, tanpa tahun

Philip K. Hitti, History of The Arabs London : Mac Millan, 1970

W. Montgomery Watt, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah Jakarta : P3M, 1988

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar